Masa kehidupan sejarah Indonesia kuno ditandai oleh pengaruh kuat kebudayaan Hindu yang datang dari India sejak abad I yang membedakan warna kehidupan sejarah Indonesia jaman Madya dan jaman Baru. Sedangkan Bojonegoro masih dalam wilayah kekuasaan Majapahit, sampai abad XVI ketika runtuhnya kerajaan Majapahit, kekuasaan pindah ke Demak, Jawa Tengah. Bojonegoro menjadi wilayah kerajaan Demak, sehingga sejarah Bojonegoro kuno yang bercorak Hindu dengan fakta yang berupa penemuan-penemuan banyak benda peninggalan sejarah asal jaman kuno di wilayah hukum Kabupaten Bojonegoro mulai terbentuk. Slogan yang tertanam dalam tradisi masyarakat sejak masa Majapahit "sepi ing pamrih, rame ing gawe" tetap dimiliki sampai sekarang.
Bojonegoro sebagai wilayah kerajaan Demak mempunyai loyalitas tinggi terhadap raja dan kerajaan. Kemudian sehubungan dengan berkembangnya budaya baru yaitu Islam, pengaruh budaya Hindu terdesak dan terjadilah pergeseran nilai dan tata masyarakat dari nilai lama Hindu ke nilai baru Islam tanpa disertai gejolak. Raden Patah, Senopati Jumbun, Adipati Bintoro, diresmikan sebagai raja I awal abad XVI dan sejak itu Bojonegoro menjadi wilayah kedaulatan Demak. Dalam peralihan kekuasaan yang disertai pergolakan membawa Bojonegoro masuk dalam wilayah kerajaan Pajang dengan raja Raden Jaka Tinggkir Adipati Pajang pada tahun 1568. Pangeran Benawa, putra Sultan Pajang, Adiwijaya merasa tidak mampu untuk melawan Senopati yang telah merebut kekuasaan Pajang 1587. Maka Senopati memboyong semua benda pusaka kraton Pajang ke Mataram, sehingga Bojonegoro kembali bergeser menjadi wilayah kerajaan Mataram. Daerah Mataram yang telah diserahkan Sunan Amangkurat kepada VOC berdasarkan perjanjian, adalah pantai utara Pulau Jawa, sehingga merugikan Mataram. Perjanjian tahun 1677 merupakan kekalahan politik berat bagi Mataram terhadap VOC. Oleh karena itu, status kadipaten pun diubah menjadi kabupaten dengan wedana Bupati Mancanegara Wetan, Mas Toemapel yang juga merangkap sebagai Bupati I yang berkedudukan di Jipang pada tanggal 20 Oktober 1677. Maka tanggal, bulan dan tahun tersebut ditetapkan sebagai HARI JADI KABUPATEN BOJONEGORO. Pada tahun 1725 Susuhunan Pakubuwono II naik tahta. Tahun itu juga Susuhunan memerintahkan agar Raden Tumenggung Haria Mentahun I memindahkan pusat pemerintahan kabupaten Jipang dari Padangan ke Desa Rajekwesi. Lokasi Rajekwesi ± 10 Km di selatan kota Bojonegoro. Sebagai kenangan pada keberhasilan leluhur yang meninggalkan nama harum bagi Bojonegoro, tidak mengherankan kalau nama Rajekwesi tetap dikenang di dalam hati rakyat Bojonegoro sampai sekarang.
Petuahmu adalah embun penyejuk bagiku
Nasehatmu terngiang selalu dalam ingatanku
Tulus kasihmu mendamaikan nuraniku
Engkaulah yang terkasih Guruku
Aku bodoh kau pintarkan
Aku nakal kau buat benar
Aku malas kau buat rajin
aku menangis kau berikan hiburan
Wahai guruku....
Tak banyak yang dapat aku persembahkan
Tak lebih dari ucapan terima kasih
Dan secuil doa tulus yang selalu ku dengungkan
Guruku
Engkaulah pelita hidupku dalam kegelapan
Engkaulah embun penyejuk
Yang selalu menghilangkan dahaga muridmu
Dahaga akan ilmu pengetahuan yang tak pernah terjamah sebelumnya...
Malam ini sangat melelahkan, satu cerpen dan satu artikel yang berhasil aku rampungkan dalam waktu tidak lebih dari empat jam. Yah,Walaupun hasilnya berantakan, tapi aku senang. Target dalam minggu ini harus selesai minimal sepuluh cerpen sudah hampir terkejar.
“ini pilihanku! Aku harus tetap menulis” tekadku,.
Ya, aku tak mungkin berhenti menulis, yang sudah jadi bagian hidupku. Walaupun karya yang aku hasilkan tidak membawa keuntungan secara materi, tapi ada kebanggaan dalam hatiku saat merangkai kata demi kata yang ada di dalam benakku. Itu karena dari awal tujuanku menulis adalah berdakwah dengan pena,meskipun saat ini yang aku gunakan adalah komputer Lab kampusku, he.... Semampuku aku berusaha membuat tulisan yang mencerahkan dan mendidik bagi pembaca dan masyarakat umum tentunya. Mulai dari opini cerpen atau artikel-artikel yang lain. Aku bercita-cita membuat cerpen lebih dari seratus dalam waktu tiga tahun kedepan. Tercapai atau tidak ya itu urusan nanti. Dan mulai dari sekaranglah aku mencoba merangkai mimpi-mimpi indahku itu.
Aku tahu Ayah tidak suka anaknya menjadi seorang penulis. Permasalahannya karena lebih dari empat puluh naskah yang sudah aku kirimkan ke redaksi tidak ada satupun yang dipublikasikan. Maklumlah masih tahap pembelajaran.
“Ayah ingin lihat kamu hidup dengan mapan dan dapat kerjaan yang layak yang sesuai dengan studimu, karena itulah ayah menyekolahkanmu jauh-jauh ke jakarta”, ujar ayah ketika aku liburan pulang dan melihat aku saat dirumah hanya menghabiskan waktu di depan komputer tua inventaris desa kepunyaannya yang tak jarang menghabiskan tinta printernya.
Aku diam saat itu, jujur aku bingung mau berkata apa untuk menjawabnya. Tanpa jawaban bukan maksudku untuk mengacuhkan orang yang selama ini sudah mendewasakanku.
Bagiku, saat menghadapi rintangan ataupun hal-hal yang menentang hobiku, justru semakin memacu adrenalinku untuk menunjukkan kepada mereka bahwa aku bisa.
Ayah, sosok yang kini telah renta hanyalah seorang pegawai desa dan dengan hasil jerih payahnya di sawah beliau mendanai semua keperluan kampusku –juga abangku yang telah mempunyai gelar LC-.
“ayah itu pilihkan kamu kuliah di jurusan bahasa Arab dan Studi Islam itu agar kamu dapat bekerja di Duta Besar kayak kak Irham, jadi kiai kayak kang munir, kang juned atau minimal kamu jadi guru aliah kayak mbak Lut. Bukan buat jadi penulis seperti yang kamu lakoni sekarang” ujarnya lagi.
‘ayah...begitu dalam aku mencintaimu. Aku tak pernah ingin menyakiti hatimu dengan bantahan konyolku. Ayah...maafkan aku’
Aku masih tak berani menjawab,meskipun batinku terdesak.
Ayah mungkin kecewa kepadaku, biaya kualihku selama ini memang berat, karena Ma’had Ustman bin Affan tempatku menempa ilmu adalah perguruan tinggi swasta, dan uang yang dikeluarkan jauh lebih tinggi. Titel yang nanti kudapatkan mungkin jadi sia-sia pikir ayah. Uang kiriman aku atur sedemikian rupa agar aku juga bisa mengirim naskahku ke redaksi dan untuk biaya cetak tulisanku. Makan dengan orek tempe tak jadi masalah demi mimpiku.
Jika menurutkan perasaan, mungkin sudah lama aku berhenti menulis. Godaan untuk tidak menulis semakin besar dan aku semakin tertantang.
Saat itu aku benar-benar merindukan pelukan ibuku, yang selalu mendamaikanku. Mungkin terkesan manja, tapi seperti itulah adanya relatifitas anak bungsu yang identik dengan manja. ‘ibu...aku rindu...seandainya kau bisa kembali’
saat itu hanya air mataku yang menjawab semua penyudutan ayah, namun aku tak mau ayah mengetahuinya.
“Buat apa sih kamu bikin cerita fiksi? Pekerjaan yang lebih identik dengan pembohongan”, kata Hendra, salah seorang karibku yang telah menajadi peternak ayam di kampung.
“tapi yang aku buatkan islami?”
“Meskipun Islami bagi gua tetep aja bo’ong. Kalo gak bo’ongan emang ada cerpen yang nyata?”
Rasanya ingin ku sarangkan kepalan kemulutnya, namun aku tak ingin hubungan yang kami jalin selama ini rusak, dan penyudutannya itu hanya ku jawab “Ya udah lakum dinukum waliadin, kerjaan gua ya gua yang ngerjain, lu punya kerjaan kerjain sendiri” dengan sedikit kesal.
Memang sih pertanyaan seperti itu seringkali menyecarku. Namun, aku bertekad walaupun nanti aku hidup di kampung dan tidak pernah lagi bergabung dengan komunitas yang selalu menguatkan ku seperti di kampus dulu, aku tidak ingin lebur seperti angin meniupkan debu. Untuk mengisi hari-hariku di saat luang aku selalu berlatih dan terus berlatih untuk mengasah kemampuanku dalam bidang menulis. Karena setiap kali aku terjatuh dan merasa bimbang, aku selalu mengingat ucapan dari seorang ustadz yang bergelut dalam bidang penulisan, ia berkata bahwasanya bakat adalah hasil dari kemauan dan kerja keras yang diasah terus-menerus.
Aku tidak pernah pedulikan cerpen yang selama ini ku buat diterbitkan atau tidak, yang penting bagiku adalah membuat dan mengirimnya ke redaksi dan yang paling utama apa yang ada dalam pikiranku terurai sudah. Karena sedari awal aku sudah meniatkan kegiatanku ini sebagai ibadah. Apalagi saat ini banyak sekali novel-novel remaja dengan genre teen lit dan chiklit yang jauh dari nilai-nilai islami.
“suatu saat akan aku buktikan bahwa aku bisa untuk berdakwah melalui pena, dan membuat para remaja itu berbalik mencintai novel-novel ataupun cerpen yang berbau islami” Tekad dalam batinku.
Aku tidak hanya mengirim karyaku ke satu majalah. Lebih dari tujuh redaksi ku kirim cerpenku dalam bulan ini. Aku tidak hanya membuatnya untuk remaja tapi juga membuat cerita pada masalah anak-anak. Usahaku tidak sia-sia, allah memberikan jalan bagi hambanya yang bersungguh-sungguh.
Pagi itu sebuah surat kabar memuat artikel yang aku kirim dua minggu yang lalu. Bisa kalian bayangkan bagaimana senangnya hati ini, sangat amat senang.
Bukan masalah honor yang akan aku dapatkan kawan, tapi rasa bangga atas apa yang ada didalam fikiran kita telah bisa dinikmati oleh orang banyak. Juga aku bisa membuktikan bahwa mutualitas tulisanku competitif.
Ucapan selamat mengalir deras dari teman-teman satu asrama. sujud syukurku padamu ya Allah, kau telah mendengar do’a hambaMu setelah sekian lama
“akan kujadikan koran ini sebagai bukti sejarah awal dari dakwah penaku” ujarku pada Rosyid sahabat yang selalu memberiku dukungan dan meminjamiku buku-buku yang akan aku jadikan referensi. “ya San, berawal dari artikel, merangkak ke novel, dan kamu akan menjadi penulis yang tulisannya best seller” dipukulnya pundakku, untuk mentransfer semangat yang ia miliki.
“aku hanya suka membaca, mengkritik, dan menilai, kalau untuk nulis kayaknya belum punya niatan” ucapnya suatu kali saat aku meminjam buku kepadanya dan menanyakan perihal ketertarikannya untuk menulis.
“ya apa bisa buat nyukupin biaya kuliahmu” ujar ayah saat aku kabari perihal terbitnya tulisanku di koran.Ya Allah,,,kenapa Kau menjadikan pertentangan antara kami?. Hatiku teriris saat itu. Aku, anaknya yang terakhir. Tak bisakah aku membuatmu bangga ayah?? Ampunilah aku ya Allah
Sepeninggalan ibu, ayah menjadi sosok yang terkesan egois. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Aku kehilangan mereka, ibu, yang selalu mendekapku dan memberikan jalan keluar saat aku merasa terdesak. Ayah, yang tak pernah protes terhadap pilihan anak-anaknya, kak irham yang kini berada jauh di Sudan untuk meneruskan S2nya. Semua telah hilang. Aku merindukan saat seperti dulu.
Hanya pena dan bukulah yang selalu setia menemani kesendirianku. Ku jadikan kertas sebagai pelampiasan atas segala sesuatu yang menimpa diriku, ku tumpahkan semua disana.
Satu dua hari berjalan berganti minggu dan bulan. Dan tulisanku mengalami banyak pembenahan sehingga tak sedikit yang telah terbit di media cetak. Hingga suatu hari sebuah forum penulis membuat lomba membuat cerpen. Ku layangkan surat kepada ayah, untuk mendapatkan restunya
“Kepada yang terkasih
Ayahku terhebat
Di surga kecil kita
Ananda awali surat ini dengan salamnya para penghuni surga dan semoga kita termasuk di dalamnya.
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Yah, nanda harap ayah senantiasa dalam lindunganNya. Amin. Dan Nanda disini alhamdulillah baik-baik saja, bagaimana yah sawahnya? Kebanjiran ya?!
Nanda gak perlu banyak basa-basi yah. Di surat ini nanda pengen ngasih kabar bahwa bulan depan nanda pengen ikut lomba membuat cerpen. Nanda tahu kalau ayah kurang setuju dengan dunia nanda yang akan kupilih.
Adanya nanda bersikukuh untuk tetap menulis bukan berarti nanda mencoba untuk durhaka. Yah, nanda sangat menghormati dan mencintai ayah, tapi belakangan ini nanda kehilangan ayah yang dulu. Nanda pengen membuktikan ke semuanya yah, nanda pengen berdakwah tapi dengan pena.
Bukankah dalam firmanNya Allah berfirman“alladzii ‘allama bil kolam” (yang mengajarkan manusia dengan pena. Hanya itu saja yah. Saat berhadapan, nanda gak kuat untuk membantah ayah meskipun batin nanda terdesak. Nanda gak pengen ayah sakit hati
Untuk sekarang nanda mohon do’a restunya untuk mengikuti lomba tersebut, semoga ayah bisa mengerti.
NB: oya yah, kiriman dari ayah aku tabung, nanti bisa buat nambahin beli pupukJ karena alhamdulilah kebutuhan kuliahku bisa sedikit terbantu dengan tulisan-tulisanku.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Dari anakmu
Yang selalu merindukanmu
Itulah surat yang aku layangkan kepada ayah.
Kupersiapkan segalanya untuk menghadapi lomba itu. Semangatku untuk membanggakan orang-orang yang aku sayangi terutama ayah begitu membara. Tak perdulikan teman-temanku yang sudah terlelap, aku masih berkutat dengan buku-buku yang aku pinjam dari Rosyid untuk menambah perbendaharaan kata yang aku miliki.
Sesekali kulangkahkan jemariku di atas keyboard dengan penuh hati-hati agar tidak menimbulkan suara dan mengganggu teman-temanku yang beristirahat. Hingga suatu hari, datang surat balasan dari ayah.
“ayah menyayangi kalian, ayah bangga mempunyai anak seperti kalian. jadilah diri sendiri. Ayah mendukung dan merindukanmu. Peluk hangat dari ayah”.
Begitu singkat apa yang disampaikan oleh ayah, kata-kata yang sangat sedikit namun memenuhi relung hatiku hingga terasa sesak. Airmataku tak terbendung saat membaca surat yang datang dari ayah.
Ayah..Terimakasih atas setiap keringat yang mengalir untuk mendewasakanku, terima kasih untuk airmata dan semua pengorbanan sucimu. Terima kasih ayah, telah menuntunku menuju jalanNya. Maafkan anakmu yang masih berusaha untuk membanggakanmu. Yang belum pernah membuatmu bahagia.
Ku tumpahkan airmata yang tak mampu tuk ku bendung, aku tak peduli dengan mereka yang memperhatikanku. Aku tak perduli, kuharap kalian mengerti kawan.
Satu bulan berlalu dan perlombaanpun dimulai. Saat itu masjid Islamic Center Jakarta Timur adalah saksi bagaimana kami semua generasi penerus bangsa berusaha membenahi moral bangsa dengan karya tulis kami. Hanya Allah yang tahu niat yang terbersit dalam hati kami.
Seluruh peserta menyerahkan karangan terbaik mereka. Dan hasil penilaiannya akan di umumkan minggu depan.
Taukah kalian kawan, dalam masa penantian seminggu terasa setahun. Dan itu benar adanya. Bahkan aku yakin kalian semua pernah merasakan yang dinamakan menunggu.
Sampailah saat yang ditunggu-tungu, yaitu pengumuman hasil penilaian dari karya tulis kami. Tiga nama di sebutkan sebagai pemenang juara pertama kedua dan tiga. Dua nama dipanggil sebagai juara harapan satu dan dua.
Dan namaku, sama sekali tidak disebutkan. Aku kalah, aku kalah kawan. Dan memang benar aku cukup sedih karena kepercayaan diri yang terlalu tinggi membuatku merasa di atas angin. Dan itu akan aku jadikan pelajaran berharga dalam hidupku.
Tanpa patah arang, aku tak pernah berhenti untuk berusaha membahagiakan ayahku yang paling hebat-bagiku-. Tanganku terus menari di atas keyboard. Merangkai kata demi kata hingga akhirnya tersusunnya cerita ini.
Terima kasih ayah...semangatku yang kau kobarkan tak pernah padam untuk menghangatkanmu.
Ibu, entah dengan apa aku bisa ungkapkan kerinduan ini.andai waktu dapat kembali berputar, kan ku persembahkan hidupku untukmu. Maafkan anakmu yang belum bisa berbakti sepanjang hidupmu, tidak sempat ucapkan terima kasih dan maafku. Maafkan aku ibu. Tenangkan dirimu dalam pelikNya ibu. Hanya doaku yang iringi perjalananmu. Aku merindukanmu...
Mbak khus,,,terimakasih telah menggantikan ibu. Aku kangen sayur asem buatanmu.
Kak irham, terima kasih atas semua petuah dan bimbinganmu. Aku bangga menjadi adikmu.
Surabaya (ANTARA) - Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah menilai, mantan Presiden Soeharto belum saatnya diberi gelar Pahlawan Nasional.
"Kalau untuk sekarang, saya nilai belum saatnya Soeharto menyandang status Pahlawan Nasional," ujarnya ketika ditemui di Surabaya, Jatim, Sabtu.
Menurut adik mantan Presiden Gus Dur ini, penganugerahan gelar Pahlawan bagi presiden kedua Indonesia tersebut, baru sangat mungkin pada dua puluh tahun ke depan.
Pasalnya, saat ini mayoritas masyarakat Indonesia masih tidak rela dan enggan menyetujui Soeharto sebagai Pahlawan. Bahkan, lanjut Gus Sholah, hasil survei masih sebanyak 50 persen warga tidak sepakat Soeharto sebagai pahlawan.
"Mungkin 10 tahun lagi berkurang menjadi 30 persen. Kemudian, sekitar 20 tahunan lagi baru mayoritas setuju. Saya rasa, masyarakat saat ini luka mereka belum hilang," tutur Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang tersebut.
Disinggung layak atau tidaknya gelar itu diberikan, meski baru dua puluh tahun mendatang, Gus Sholah mengakuinya, jasa-jasa Soeharto selama sebelum memimpin maupun ketika memimpin memang harus diakui.
Hanya saja, tentang layak atau tidaknya, ia mengatakan bahwa panitia yang berhak menentukan. Sampai saat ini, panitia masih belum bisa memastikan apakah Soeharto berhak menyandang gelar tersebut.
"Bukan saya yang menentukan layak atau tidak, tapi panitia yang berhak. Kalau panitia menganggap layak, namun masyarakat tidak bagaimana? biarkan waktu yang akan memutuskannya," tukas pria berkaca mata itu.
Sementara, terkait rencana penganugerahan gelar pahlawan terhadap kakak kandungnya yang juga mantan Presiden RI keempat KH Abdurrachman Wahid atau Gus Dur, Gus Sholah mengaku tidak terlibat.
Menurut dia, biarkan keluarga Gus Dur sendiri yang mengurusi, dan tidak menjadi haknya terlibat atau bahkan mencampurinya secara pribadi.
"Biarkan keluarganya yang terlibat, dan itu bukan saya. Tapi kalau ditanya apakah saya setuju, secara subjektif saya menyetujuinya dan memang sangat layak," ucap mantan pasangan Wiranto sebagai calon Wakil Presiden RI tahun 2004 lalu tersebut. dikutip dari yahoo-news
jangan mentang-mentang saudara gus,kinerja almarhum tidak ada yang dirasakan masyarakat. jangan terlalu subyektif deh.
Waytenong Jum’at, 29 Oktober 2010. Dalam rangka memperingati hari Sumpah pemuda, SMPN I Waytenong mengadakan Lomba kebersihan kelas dan lomba membaca puisi. Lomba yang anggaran dananya Rp. 150.000; itu dilaksanakan penuh dengan semangat.
Sejak kamis kemaren, para siswa sibuk membenahi kelas dan taman mereka. Dekorasi di ruangan kelas dirancang sedemikian rupa agar dewan juri terpukau saat meninjau kelas mereka. Berbagai macam pernak-pernik, mulai dari rantai yang terbuat dari kertas, origami dan lain sebagainya meramaikan suasana kelas. Hiasan dinding, yang kebanyakan di penuhi dengan foto tokoh-pahlawan juga menjadikan suasana menjadi terkesan penuh dengan perjuangan.
Sore itu, seolah langit ikut merasa terharu dengan semangat para remaja ini meneteskan ‘air mata’. Dan hal itu menambah semangat bagi mereka.
Pembagian tugas yang di manage dengan rapi membuat saya terkagum. Semua siswa-anggota kelas- mengerjakan tugas masing-masing ada bagian dekor, nyapu, membuang sampah taman dan ada pula yang sibuk berlatih membaca naskah Sumpah pemuda, dan di ujung kelas saya melihat seorang anak yang menghafal puisi dengan bahasa inggris. Sungguh mengagumkan “MALU, TIDAK BERUSAHA PENGEN JADI JUARA’ tulisan itulah yang terpampang di screen LCD, ada pula yang menyetel musik dengan beat yang tinggi ‘untuk menambah semangat mereka’ piker saya.
Di sini, bukan hadiah yang diperebutkan. Tapi image sebagai sang juara serta kekompakanlah yang menjadi hal utama yang ada di dalam benak adik-adik kita ini.
Keesokan harinya, gerbang sekolah belum di buka oleh staff keamanan sekolah, sudah banyak anak-anak yang menunggu dibukanya gerbang lading mereka mencari ilmu.
Saya perhatikan dari kejauhan, ternyata ada beberapa kelas yang belum finish. Ada yang menyapu, mengepel-lantai, karena malam sebelumnya hujan lumayan deras dan membuat kotor-kembali- lantai yang sudah mereka bersihkan kemaren sore. Ada jugaa yang masih berlatih untuk membuat penampilannya sempurna.
Pukul 09.00 lonceng sekolah berbunyi empat kali, tanda berkumpul. Semua murid menghambur ke lapangan, OSIS mempersiapkan Audio, Juri keliling kelas memberikan penilaian, dan anak-anak sanggar membuka acara dengan drama teatrikal sebelum ketua panitia memberikan sambutan.
Tersirat di wajah anak-anak rasa tidak sabar untuk segera mentas, namun tidak sedikit pula yang menggambarkan rasa grogi mereka, yaitu anak-anak kelas VII.
Satu persatu Mr. Teguh(guru seni budaya)- yang bertugas memberi nilai atas dramatisasi dan penghayatan puisi- memanggil nama anak yang akan tampil, sedangkan Ms. Rita(pihak UKS) memberikan nilai atas kesopanan serta kerapihan anak. Dan Ms. Titin(guru Bahasa Inggris) ditugaskan sebagai dewan penilai umum.
Setiap siswa yang mewakili kelas mereka menampilkan penampilan terbaik mereka. Ada yang membuat semua yang hadir ternganga karena penghayatan dan intonasi yang boleh dibilang mendekati sempurna, ada yang membuat semuanya tertawa, lantaran naskah yang ia bawa keliru. Dan banyak pula yang membuat ‘penonton’ sibuk dengan kesibukan masing-masing karena pembawaan puisi yang datar dan membosankan atau mungkin tidak mengerti arti dari puisi berbahassa inggris yang dibawakan anak-anak SBI.(seperti itulah anak-anak)
Dari kisah di atas tergambar, bagaimana remaja-remaja kita mempunyai semangat yang tinggi untuk memperingati hari sumpah pemuda yang ke 28. Bukan hadiah yang mereka perebutkan, namun rasa ingin menghargai perjuangan pemuda lah yang tertanam di benak mereka.
Hanya sebagai catatan, pelajar SMP belum di golongkan sebagai pemuda melainkan masih di golongkan ABG atau remaja.
Kenyataan yang penulis lihat, banyak sekali pemuda-dalam hal ini remaja tidak termasuk- yang tidak lagi mengerti akan nilai-nilai sumpah pemuda dan juga tentang pancasila.
Ada pemuda yang kegemarannya hanya merong-rong tangkup kekuasaan seorang pemimpin dan meneriakinya laiknya anjing kelaparan tanpa memberikan solusi yang jelas, kritis namun tidak logis. Bagaimana tidak, ketika disuruh menuntut, menilai dan menghakimi paling jagonya namun, saat diminta solusi yang tepat mereka diam sejuta bahasa. Hanya matanya yang melotot layaknya ikan asin yang dijemur.
Padahal belum tentu saat mereka diberikan kesempatan untuk memimpin, mereka dapat menjadi pemimpin yang sempurna bagi rakyatnya.
Mungkin mereka sudah lupa tentang sila ke-4 “Kerakyatan yang pimpin oleh khidmad, kebijaksanaan dalam permusyawaratan, perwakilan”
Kemajuan masyarakat adalah saat kepemimpinan berjalan dengan khidmad. Sekarang bagaimana bisa maju bila di rong-rong terus?! (mohon maaf kalo salah mengartikan). Kemudian, alangkah baiknya kalau kita punya pandangan ataupun pendapat-demi majunya bangsa ini tentunya- kita bermusyawarah dan tidak meneriaki dari luar.
Namun hal itu masih bisa dikatakan lebih baik daripada pemuda yang acuh tak acuh terhadap kedaulatannya. Tak peduli apa yang terjadi dan tak mau ambil pusing. Hal inilah yang sebenarnya lebih merusak. “pemuda sekarang adalah pemimpin masa depan” itulah sabda nabi, apa jadinya bila pemimpin kelak adalah sosok yang acuh dan tak mau perduli.
Kritis dan acuh, sah-sah saja untuk mempergunakannya, tapi keduanya mempunyai tempat masing-masing. Kita harus tahu kapan saatnya untuk kritis dan kapan waktu yang pas untuk menggunakan jiwa cuek kita.
Demi majunya bangsa yang –mungkin- kita banggakan ini, marilah kembali kita ingat dan mengamalkan –makna- pancasila,memahami arti pengorbanan dan perjuangan serta menggali prestasi untuk membuktikan bahwa kita adalah pemuda yang berbakti kepada pertiwi agar para tidak sia-sia setiap darah yang mengucur, setiap nyawa yang melayang dan setiap air mata yang tak terbendung.
Jangan biarkan pertiwi menangis melihat anak-anaknya.